Belakangan ini saya mulai mengambil arah yang lebih spesifik, memfokuskan diri pada pengembangan produk aplikasi untuk ekosistem Apple.

Selain data yang pernah saya jabarkan sebelumnya ada hal lain yang ingin saya pelajari. Yaitu soal PRODUK dari beragam jenis app.

Sekarang CODE semakin mudah dibuat dan semakin mudah ditiru dengan bantuan AI. Pembeda yang lebih kuat justru kemampuan memahami produk: memahami masalah pengguna, pengalaman penggunaan, positioning, monetisasi, distribusi, sampai alasan orang memilih produk.

Pemahaman produk terdekat yang musti dikuasai dan dicapai adalah soal UI, UX & Performance dari perspektif user (bukan app developer). Dan untuk mencapai hal tersebut musti harus LATIHAN mencoba semua bahasa dari Dart, React Native, Kotlin sampai Swift. 😆

Hasil akhirnya, build app pakai Swift punya ukuran lebih kecil. Misalnya bikin GAME [lihat Video pembelajaran app #56] simple, pakai swift ukurannya 6M, tapi kalau pakai Flutter/ReactNative ukurannya bisa meledax sampai 15x lipat 😅

Untuk UI, Frame yang melebihi sekitar 16 ms pada layar 60 Hz kadang menghasilkan “jank” di flutter dan di ReactNative sebagian logika aplikasi berjalan pada JS thread. Jika thread terlalu sibuk, animasi tertentu bikin frame ilang.

SwiftUI juga tidak otomatis bebas dari masalah performa, kalo aplikasi Swift yang ditulis buruk ya tetap sama saja 😅

But anyway, karena fokus performance iOS, ya bikinnya di ekosistem apple pakai Swift/SwiftUI aja. Secara default, animasi, gesture & transisinya halus gak perlu effort besar buat bikin, pakai VibeCode aja cukup (Lihat di Video). 😁

Kalau elu coba untuk menduplikasi ke versi Android, saya jamin hasil UI-nya bakal beda , kalaupun bisa dijamin propmt-nya bakal berulang-ulang hanya untuk benerin UI biar plek-ketiplek kayak apple.

Udah sampai situ aja?

Ya nggak lah. 😁

Apple yang konon punya tingkat kepercayaan pengguna cukup tinggi, proses review app-nya ketat buangettt kayak celana jeans bini saya 😜 .

Saya sampai jengkel kalo submit app di Apple. Ikon musti bener lah, tampilan musti rapi, privacy-nya njlimet, paywal harus pas, deskripsi musti sesuai, age rating & data collection musti bener.

Bayarnya juga agak mahal, sekitar $99/tahun. Gak renew, semua app langsung raib, delisting … 😑

Kalo App-nya ini ber-monetize, mereka meminta 15-30% dari hasil pendapatan di app.

Kalo app dikasih login native/googleAuth, “Login with Apple” menjadi keharusan.

Kalo sudah monetize, withdrawl date kadang seenak jidat Team Apple 😔

Kalau aplikasi kita dideteksi sebagai plagiasi , maka harus dirombak total gak usah nanya alasannya pokoknya harus ganti!!

Form yang disi banyak banget, lebih banyak dari pada formulir sensus penduduk 😅 . Salah ngisi, dijamin bakal kena reject, mereka meminta ini itu termasuk dokumen.

Apple sering update Agreement-nya, kalau gak rajin klik tombol approve, maka app update bakal muacet.

Silahkan dicoba meski sulit, karena market sulit biasanya ber-duit 😁